Jumat, 01 April 2011

Esai Saya


Kualitas Acara Televisi di Indonesia
            Seperti yang kita tau, bahwa acara televisi di Indonesia semakin banyak dan tentunya dengan isi, genre dan episode yang banyak pula. Namun, apakah kita senantiasa memperhatikan lebih teliti tentang acara yang akan atau sudah sering kita tonton? Apa isi di dalamnya? Apa maknanya? Bagaimana ratingnya? Kapan tayangnya?
            Menurut saya, kebanyakan acara televisi di Indonesia dengan rated T (Teen = Remaja) sampai M (Mature = Dewasa). Jarang bahkan tak ada yang menayangkan acara anak-anak. Lebih lagi, isi dari acara itu cenderung sama. Kemungkinan dengan banyaknya kesamaan ide cerita atau acara tergantung banyaknya minat.
            Tidak jarang pula dalam suatu acara itu mengandung unsur-unsur yang negatif dan dapat dinilai tidak bermanfaat. Contohnya saja, banyak acara sinetron yang menampilkan adegan-adegan yang tak masuk akal atau di luar logika. Ini dapat dinilai terlalu sengaja. Memang, ini juga tergantung dari kreatifitas, namun bukankah lebih baik jika hiburan juga mengandung makna. Dari ‘kreatifitas’ yang ‘lebay’ (berlebihan) ini, dapat mempengaruhi pola pikir orang yang menontonnya. Sehingga dikhawatirkan akan menirunya, padahal itu mustahil. Tidak sedikit korban dari ‘kreatifitas’ ini, terutama anak-anak.
            Pastinya sudah sering kita temui acara televisi di Indonesia adalah hasil plagiat dari luar negeri. Biasanya acara yang menayangkan audisi-audisi. Ini seakan menampakan bahwa Indonesia gampang mandeg ide. Namun bukan berarti acara televisi di Indonesia tidak ada yang bagus dan penuh makna. Adapun acara-acara yang ditayangkan mengajak pada hal-hal sosial, religious, atau menambah ilmu.
            Tidak jarang dari sekian banyak acara televisi di Indonesia menayangkan berita-berita bohong atau sekedar isu untuk mengheboh-hebohkan dengan tujuan agar para audiens tidak beralih ke acara lain. Ini akibat kurangnya rasa tanggung jawab dalam menggunakan hak kebebasan pers sehingga dapat mengesampingkan kode etik dalam pers. Contohnya seperti berita yang baru-baru ini, adanya kuburan menangis yang belum dapat dibuktikan. Atau menayangkan hal-hal yang sepele. Contohnya tentang tempat-tempat hiburan yang dapat dikatakan tempat itu sudah terkenal sejak dulu dan diberitakan berulang-ulang.

Hal-hal yang dapat diperhatikan untuk menilai kualitas suatu acara adalah :
Rating : perhatikan rating apa yang menjadi target utama acara tersebut. Misal, jika ratingnya K (Kids = anak-anak), biasanya terdapat tulisan BO (Bimbingan Orang Tua).
Genre : Jenis suatu acara. Misal romantisme, tragedi, misteri, keluarga, persahabatan dan sebagainya. Jenis seharusnya perlu disesuaikan dengan ratingnya. Jika terjadi penyimpangan, terutama untuk rating K yang saya anggap sangat sensitif, maka segera tinggalkan acara tersebut untuk mencegah hal-hal negatif diserap oleh anak-anak.
Isi : Sangat berkaitan dengan jenis. Isi dan jenis yang sudah umum terdapat dalam suatu acara adalah tentang percintaan, konflik rumah tangga, hal-hal ajaib yang secara logika tidak mungkin terjadi.
Durasi/Episode/Jam tayang : Perhatikan ketiga hal ini. Jika durasinya terlalu lama, dikhawatirkan akan menyita waktu Anda yang mungkin akan cenderung meneruskan ingin menontonnya. Episode yang terlalu panjang/ banyak sampai ada yang membuat sesi selanjutnya, bagi sebagian orang menilainya membosankan. Jam tayang yang terlalu malam sebaiknya dihindari. Biasanya, acara yang memiliki jam tayang malam adalah acara yang bergenre M.
            Dengan ini, bisa dapat disimpulkan bahwa kualitas acara di Indonesia masih kurang sebab terlalu banyaknya kebiasaan mem-plagiat dan ke-mandeg-an kretifitas sehingga banyak kesamaan ide. Selain itu,  adanya kebebasan pers yang digunakan oleh sebagian pihak dengan kurang bertanggung jawab menjadi salah satu faktor penyebab dalam kualitas acara televisi di negara ini. Saya yakin, bukan mustahil suatu saat nanti akan ada banyak acara-acara yang lebih kreatif dan inovatif.

Sejarah Animasi di Indonesia

Dalam hal animasi Indonesia juga sangat berkembang, dari jaman pewayangan hingga jaman 3D sekarang ini. Sejarah Animasi Indonesia mulai diketahui sejak ditemukannya Cave Pinting yang bercerita mengenai binatang buruan atau hal-hal yang berbau mistis. Wayang yang merupakan cikal bakal lahirnya animasi Indonesia.

Awalnya Untuk Kepentingan Politik
Sejak tahun 1933 di Indonesia banyak koran lokal yang memuat iklan Walt Disney. kemudian Pada Tahun 1955 Presiden Soekarno yang sangat menghargai seni mengirim seorang seniman bernama Dukut Hendronoto (pak Ook) untuk belajar animasi di studio Walt Disney, setelah tiga bulan ia kembali ke Indonesia dan membuat film animasi pertama bernama “Si Doel”. Memilih animasi ini awalnya di buat untuk tujuan kampanye politik. Lalu pada tahun 1963 Ook hijrah ke TVRI dan mengembangkan animasi di sana dalam salah satu program namun kemudian program itu dilarang karena dianggap terlalu konsumtif.

ERA 70-an
Pada tahun 70-an terdapat studio animasi di Jakarta bernama Anima Indah yang didirikan oleh seorang warga Amerika. Anima Indah termasuk yang mempelopori animasi di Indonesia karena menyekolahkan krunya di Inggris, Jepang, Amerika dan lain-lain. Animasi berkembang dengan baik namun hanya berkembang di bidang periklanan. Di tahun 70-an banyak film yang menggunakan kamera seluloid 8mm, maraknya penggunaan kamera untuk membuat film tersebut, akhirnya menjadi penggagas adanya festival film. di festival film itu juga ada beberapa film animasi Batu Setahun, Trondolo, Timun Mas yang disutradarai Suryadi alias Pak Raden (animator Indonesia Pertama). Hehehe, bicara soal Timun Mas, jadi inget deh pas nonton animasinya ini, masih kaku banget gerakannya.

Era 80-an
Tahun yang ditandai sebagai tahun maraknya animasi Indonesia. Ada film animasi Rimba si Anak Angkasa yang disutradarai Wagiono Sunarto dan dibuat atas kolaborasi ulangan si Huma yang diproduksi oleh PPFN dan merupakan animasi untuk serial TV. Ada juga film animasi Pet era tahun 1980-1990-an ditandai dengan lahirnya beberapa studio animasi seperti Asiana Wang Animation bekerjasama dengan Wang Fim Animation, Evergreen,Marsa Juwita Indah, Red Rocket Animation Studio di Bandung, Bening Studio di Yogyakarta dan Tegal Kartun di Tegal

Era 90-an
Di tahun ini bertaburan dengan berbagai film animasi diantaranya Legenda Buriswara, Nariswandi Piliang, Satria Nusantara yang kala itu masih menggunakan kamera film seluloid 35mm, kemudian ada serial "Hela, Heli, Helo yang merupakan film animasi 3D pertama yang di buat di Surabaya, Tahun 1998 mulai bermunculan film-film animasi yang berbasis cerita rakyat seperti Bawang Merah dan Bawang Putih, Timun Mas dan petualangan si Kancil di Era 90-an ini banyak terdapat animator lokal yang menggarap animasi terkenal dari jepang seperti Doraemon dan Pocket Monster

Era 2000-an
Diantara sekian banyak studio animasi di Indonesia, Red Rocket Animation termasuk yang paling produktif. Pada tahun 2000 Red Rocket memproduksi beberapa serial animasi TV seperti “Dongeng Aku dan Kau”, “Klilip dan Puteri Rembulan”, “Mengapa Domba Bertanduk dan Berbuntut Pendek”, “Si Kurus dan Si Macan”, pada masa ini serial animasi cukup populer karena menggabungkan 2D animasi dengan 3D animasi. Pada tahun 2003, serial 3D animasi merambah layar lebar diantaranya “Janus Prajurit Terakhir”. Sebenarnya animasi ini ga bisa dibilang animasi murni, soalnya gabungan film biasa (manusia) dengan animasi gitu. Lalu menyusul kemudian bulan Mei 2004 terdapat film layar lebar 3D animasi berdurasi panjang yaitu “Homeland”. Dan baru-baru ini, di tahun 2010 kemaren, baru dirilis animasi baru berjudul “Vatalla”. Hm, intinya sih, animasi di Indonesia ini selalu mengambil tema untuk anak-anak. Dan menurutku, ceritanya masih agak monoton dan kurang menggairahkan. Tapi, semoga di tahun ke depan animasi Indonesia bisa menandingi animasi dari negara lain, khususnya Jepang dan Malaysia yang sesama Asia.




Sejarah Animasi

Keinginan manusia untuk membuat gambar yang hidup dan bergerak sebagai perantara dari pengungkapan mereka, merupakan perwujudan dari bentuk dasar animasi yang hidup berkembang. Kata animasi itu sendiri sebenarnya penyesuaian dari kata animation, yang berasal dari kata dasar to animate, dalam kamus umum Inggris-Indonesia berarti menghidupkan (Wojowasito 1997). Secara umum animasi merupakan suatu kegiatan menghidupkan, menggerakkan benda mati. Suatu benda mati diberikan dorongan kekuatan, semangat dan emosi untuk menjadi hidup dan bergerak, atau hanya berkesan hidup.
 
Sebenarnya, sudah dari jaman purba, manusia telah mencoba meng­animasi gerak gambar binatang mereka, seperti yang ditemukan oleh para ahli purbakala di gua Lascaux Spanyol Utara, sudah berumur dua ratus ribu tahun lebih. Mereka mencoba untuk menangkap gerak cepat lari binatang, seperti celeng, bison atau kuda, digambarkannya dengan delapan kaki dalam posisi yang berbeda dan bertumpuk (Hallas and Manvell 1973). 
 
Orang Mesir kuno menghidupkan gambar mereka dengan urutan gambar-gambar para pegulat yang sedang bergumul, sebagai dekorasi dinding. Dibuat sekitar tahun 2000 sebelum Masehi (Thomas 1958).
 
Lukisan Jepang kuno memperlihatkan suatu alur cerita yang hidup, dengan menggelarkan gulungan lukisan, dibuat pada masa Heian(794-1192) (ensiklopedi Americana volume 19, 1976). Kemudian muncul mainan yang disebut Thaumatrope sekitar abad ke 19 di Eropa, berupa lembaran cakram karton tebal, bergambar burung dalam sangkar, yang kedua sisi kiri kanannya diikat seutas tali, bila dipilin dengan tangan akan memberikan santir gambar burung itu bergerak (Laybourne 1978).
 
Hingga di tahun 1880-an, Jean Marey menggunakan alat potret beruntun merekam secara terus menerus gerak terbang burung, berbagai kegiatan manusia dan binatang lainnya. Sebuah alat yang menjadi cikal bakal kamera film hidup yang berkembang sampai saat ini. Dan di tahun 1892, Emile Reynauld mengembangkan mainan gambar animasi yang disebut Praxinoscope, berupa rangkaian ratusan gambar animasi yang diputar dan diproyeksikan pada sebuah cermin menjadi suatu gerak film, sebuah alat cikal bakal proyektor pada bioskop (Laybourne 1978).
 
Kedua pemula pembuat film bioskop, berasal dari Perancis ini, dianggap sebagai pembuka awal dari perkembangan teknik film animasi (Ensiklopedi AmericanavoLV1,1976). Sebagai tambahan, aku pernah baca di suatu majalah, animasi pertama yang dibuat mereka ini adalah seorang anak laki-laki yang sedang menghapus papan tulis dan durasinya berkisar 2-3 detik.
 
Sepuluh tahun kemudian setelah film hidup maju dengan pesat-nya di akhir abad ke 19. Di tahun 1908, Emile Cohl pemula dari Perancis membuat film animasi sederhana berupa figure batang korek api. Rangkaian gambar-gambar blabar hitam (black-line) dibuat di atas lembaran putih, dipotret dengan film negative sehingga yang terlihat figur menjadi putih dan latar belakang menjadi hitam.
 
Sedangkan di Amerika Serikat Winsor McCay membuat film animasi “Gertie the Dinosaur” pada tahun 1909. Figur digambar blabar hitam dengan latar belakang putih. Menyusul di tahun-tahun berikutnya para animator Amerika mulai mengembangkan teknik film animasi di sekitar tahun 1913 sampai pada awal tahun 1920-an. Max Fleischer mengembangkan “Ko Ko The Clown” dan Pat Sullivan membuat “Felix The Cat”. Rangkaian gambar-gambar dibuat sesederhana mungkin, di mana figure digambar blabar hitam atau bayangan hitam bersatu dengan latar belakang blabar dasar hitam atau dibuat sebaliknya. McCay membuat rumusan film dengan perhitungan waktu, 16 kali gambar dalam tiap detik gerakan.
 
Fleischer dan Sullivan telah memanfaatkan teknik animasi sell, yaitu lembaran tembus pandang dari bahan seluloid (celluloid) yang disebut “cell”. Pemula lainnya di Jerman, Lotte Reineger, di tahun 1919 mengembangkan film animasi bayangan, dan Bertosch dari Perancis, di tahun 1930 membuat percobaan film animasi potongan dengan figure yang berasal dari potongan-potongan kayu.
 
George Pal memulai menggunakan boneka sebagai figure dalam film animasi pendeknya, pada tahun 1934 di Belanda. Dan Alexsander Ptushko dari Rusia membuat film animasi boneka panjang “The New Gulliver” di tahun 1935.
 
Di tahun 1935 Len Lye dari Canada, memulai menggambar langsung pada film setelah memasuki pembaharuan dalam film berwarna melalui film ”Colour of Box”. Perkembangan Teknik film animasi yang terpenting, yaitu di sekitar tahun 1930-an. Dimana muncul film animasi bersuara yang dirintis oleh Walt Disney dari Amerika Serikat, melalui film ”Mickey Mouse”, “Donald Duck” dan ”Silly Symphony” yang dibuat selama tahun 1928 sampai 1940. Semua film animasi bersuara ini, uniknya dubber (pengisi suara) nya adalah Walt Disney sendiri.
 
Pada tahun 1931 Disney membuat film animasi warna pertama dalam filmnya “Flower and Trees”. Dan film animasi kartun panjang pertama dibuat Disney pada tahun 1938, yaitu film “Snow White and Seven Dwarfs”.
 
Demikian asal mula perkembangan teknik film animasi yang terus berkembang dengan gaya dan ciri khas masing-masing pembuat di berbagai Negara di Eropa, di Amerika dan merembet sampai negara­-negara di Asia. Terutama di Jepang, film kartun berkembang cukup pesat di sana, hingga pada dekade tahun ini menguasai pasaran film animasi kartun di negara ini dengan ciri dan gayanya yang khas. Makanya, gak heran kan kalo anak-anak Indonesia pasti lebih kenal plus hapal kartun-kartun dari Jepang ketimbang dari Eropa atau Amerika.